Minggu, 24 Juni 2012

hujan di lapangan


Hujan. Bukan dia jika itu menjadi penghalang. Bukan dia jika itu menjadi masalah terumit dalam hidupnya. Bukan dia juga jika hujan ini membuat keterpurukan atau keputus asaan tiba-tiba.
Tetes pertama, sebuah kenangan lama mulai menutup dengan pasti. Tetes kedua, tak ada langkah lunglai untuk menampakkan asa. Tetes ketiga, dengan tatapan pasti terhanyut diluar untuian rindu. Tetes keempat, bersama lari ini, biar membawa sebuah mimpi yang makin menjumpai. Tetes kelima, tak ada kata sampai di sini yang terungkap karena setiap langkah adalah awal dari jalan yang panjang.
Itulah dia. Biarlah kulihat dia dengan hujan yang membawanya. Lapangan berhujan itu seperti tempat berteduhnya dari panasnya mentari yang tak kira-kira. Tetaplah menjadi hal itu karena itulah yang memberi warna padamu.
Lupakan gundah, bersama hujan biarlah kau kejar mimpimu. Emosi sesaat itu biar kabur bersama dengan larimu. Dengan bola yang kau giring, itulah mimpi yang kau giring
Larilah, ini bukan hujan penghalang. Jangan takut pada hujan itu. Larilah bersama mimpi yang kau giring. Bawalah sebuah kebanggaan saat kau kembali. Hujan ini biarlah tetap mejadi hujan di lapangan yang akan menjadi saksi. Tak akan pernah hujan ini berubah jadi duri yang akan memberi sayatan pada tubuhmu.
Melangkahlah dengan pasti. Bawa impianmu itu mendekati kebahagiaan tak terbendung. Mereka juga pasti mendukungmu. Entah kau sadari atau tidak. Hujan ini biar melakukan misinya sendiri. Biar membuat rumput tempat ini juga mengejar mimpinya. Jangan hiraukan hujan yang membasahimu. Jangan takut, tetaplah berlari
Hujan di tempat ini tak akan berubah. Ia akan tetap sama. Seperti diriku yang tak akan berubah. Aku tetap akan menunggumu di sini. Aku akan tetap sama. Menuggumu datang padaku dengan sebuah senyum kebanggaan, senym kemenangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar